Just another WordPress.com site

Budidaya Sengon Laut


BUDIDAYA SENGON DENGAN SISTEM TUMPANG SARI

A.     Latar Belakang

Kayu saat ini merupakan barang yang memilki nilai ekonomi tinggi dan mahal. Hal itu terjadi karena turunnya produksi kayu dari hutan sebagai akibat dari penyusutan dan kerusakan hutan di Indonesia. Disisi lain kebutuhan akan kayu untuk bahan bangunan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk di Indonesia. Kelangkaan kayu merupakan suatu permasalahan, tetapi bisa juga merupakan peluang. Kayu merupakan sumber daya alam yang bisa diperbaruhi, sehingga apabila petani mau membudidayakan tanaman kayu-kayuan tentu saja akan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Budidaya tanaman katu-kayuan khususnya di Pulau Jawa mengalami berbagai kendala. Ketersediaan lahan yang tebatas merupakan salah satu kendala utama. Lahan yang tersedia lebih intensif digunakan sebagai lahan pertanian dibandingkan sebagai lahan hutan rakyat. Pertanian merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan bagi sebagian masyarakat di Pulau Jawa karena merupakan mata pencaharian utama. Agar bisa membudidayakan tanaman kayu-kayuan maka perlu dilakukan metode penanaman dengan sistem tumpang sari yang dapat menggabungkan antara tanaman pertanian dan tanaman kayu-kayuan pada suatu lahan secara bersamaan.

Pemilihan jenis atau spesies yang akan ditanam pada sistem tumpang sari sangat menentukan keberhasilan dari sistem tumpang sari tersebut. Pohon Sengon (Paraserientes falcataria) merupakan jenis tanamam kehutanan yang sudah dikenal di masyarakat dan memiliki kecepatan tumbuh sangat tinggi dan daur yang pendek (6 – 8 tahun). Sengon dapat tumbuh optimal di ketinggian 400 -700 mdpl sehingga sangat cocok dibudidayakan di daratan tinggi. Sengon juga memiliki tipe daun yang kecil-kecil dan tajuk yang tidak rapat sehingga tanaman bawah masih cukup terkena sinar matahari. Karena sifat-sifat yang dimiliki sengon tersebut, maka sengon cocok sebagai tanaman pokok dalam sistem tumpang sari. Jenis tanaman sela yang cocok di tanam diantaranya jagung, umbi-umbian, ketela pohong, rumput gajah, dan berbagai jenis empon-empon.

Dengan budidaya sengon dengan sistem tumpang sari diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Hal tersebut dikarenakan selain petani akan memperoleh hasil tanaman pertanian, petani juga akan memperoleh hasil panen kayu sengon pada akhir daur kayu sengon. Kayu sengon memiki nilai ekonomis yang tinggi dan pemasaran yang mudah. Agar hasil panen dapat maksimal, maka sistem tumpang sari harus dilakukan dengan metode yang benar.

B.     Metode Budidaya Sengon dengan Sistem Tumpang Sari

Hal paling menentukan dalam keberhasilan sistem tumpangsari adalah pengaturan jarak tanam. Jarak tanam harus diatur dengan tujuan bahwa intesitas sinar matahari dan nutrisi harus mampu mecukupi kebutuhan tanaman pokok ataupun tanaman sela. Jika jarak tanam terlalu dekat maka pertumbuhan dari tanaman akan terhambat dan tidak optimal. Hal yang menentukan penentuan jarak tanam diantaranya lebar tajuk, kerapatan tajuk, kondisi tanah, karakteristik akar, dan keadaan naungan.

Jarak tanam yang ideal untuk adalah jarak tanaman pokok (sengon) 4 x 1 m dan jarak 2 m diantara tanaman pokok tersebut dapat ditanami tanaman sela. Penamam dilakukan dengan arah larikan dari timur ke barat, hal tersebut dilakukan agar sinar matahari dapat menerobos masuk sepanjang hari sesuai dengan arah peredaran matahari dari timur ke barat.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa tinggi dari tanaman sela tidak boleh lebih tinggi dari tanaman pokok karena akan menghambat pertumbuhan tanaman pokok. Idealnya penanaman tanaman sela sebaiknya ditanam setelah tanaman pokok berusia 1 tahun sehingga tinggi tanaman pokok telah lebih dari 1 m. Ketersediaan nutrisi tanah juga mempunyai peranan yang penting, sehingga pemupukan harus rutin dilakukan untuk menjamin tercukupinya kebutuhan nutrisi dari tanaman pokok dan tanaman sela. Pemupukan untuk tanaman pokok sebaiknya dilakukan mulai saat membuat lubang tanam. Lubang tanam dibuat 1 bulan sebelum penanaman dengan ukuran lubang 40 x 40 x 40 cm. Aplikasi pupuk dilakukan dengan mencampur 2 kg kompos dan 2 ons pupuk kimia (Urea, TSP, NPK, KCL) untuk tiap-tiap lubang tanam. Pemupukan lanjutan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Selain pemupukan, tanaman pokok perlu dilakukan perawatan diantaranya prunning (pemangkasan cabang). Pemangkasan ini harus rutin dilakukan agar batang tanaman pokok tidak bercabang. Penanaman susulan untuk mengganti tanaman yang mati dapat dilakukan sampai umur tanaman pokok berusia 2 tahun. Pada umur 3-4 tahun dilakukan tebang penjarangan sekitar 50% dari populasi. Hal tesebut dilakukan untuk menjaga kerapatan sehingga pertumbuhan sengon dapat optimal. Tebang penjarangan dapat dilakukan secara selektif pada pohon yang memiliki pertumbuhan kurang baik dan memiliki cacat batang. Pemanenan sengon dilakukan saat umur sengon tersebut usia 6 tahun dengan estimasi diameter batang sebesar 30 cm.

C.     Analisis Biaya dan Keuntungan

Analisis biaya tersebut dibawah ini dengan mengabaikan biaya tanam tanaman sela dan keuntungan hasil panennya. Pada lahan 1 hektar dapat ditanami sengon sebanyak 2500 pohon. Jika tebang penjarangan sebesar 50% maka tersisa 1.250 pohon. Jika nilai mortalitas (kematian) sebesar 10% maka akan diperoleh hasil panen sengon sebanyak 1.125 pohon. Dengan diameter batang 30 cm maka tiap 1 m3 kayu terdiri dari sekitar 5 pohon. Jadi hasil panen sekitar 225 m3 kayu. Harga pasaran kayu sengon saat ini adalah Rp 750.000,- per 1 m3. Jadi hasil panen kayu sengon sekitar Rp.168.750.000,-

Biaya penanaman meliputi biaya sewa lahan, persiapan lahan, pembelian bibit, pemupukan, dan perawatan. Jika biaya mulai dari penanaman hingga masa panen diestimasikan sebesar Rp.50.000.000,- maka keuntungan dari budidaya sengon dalam satu kalidaur panen (± 6 tahun) sebesar Rp. 108.750.000,-. Besar keuntungan tersebut masih belum ditambah hasil dari tebang penjarangan dan hasil panen tanaman pertanian sebagai tanaman sela.

Sepenting apa posisi tumpang sari atau tanaman sela dalam budidaya perkebunan jati dan sengon? Tentu sangat penting. Karena dengan tumpangsari ini masa panen yang lama akan teratasi.

NERACA.Biasanya, Untuk membiayai penjaga kebun jati (tectona grandis) pemilik lahan menrapkan tumpangsari dengan menanam bawang merah (jenis bawang goreng), jagung manis dan lombok rawit. Bawang merah dan lombok rawit memerlukan matahari penuh sehingga tumpangsari hanya dapat diterapkan sebelum jati tumbuh tinggi.

Untuk lahan yang super kritis dengan curah hujan hanya 100 mm pertahun dimana pertumbuhan jati yang sangat lambat, maka selain untuk menutup biaya pemeliharaan (upah penjaga kebun dan Iam2), tumpangsari intensif (dengan penyiraman sprinkle, pemupukan dan penyiangan gulma secara teratur) sangat membantu pertumbuhan tanaman jati sehingga mendekati jati yang ditanam pada areal yang memenuhi syarat tumbuh ideal.

Selama satu bulan tumpang sari, sudah dapat dilihat bahwa pertumbuhan tanaman jati sekitar tumpang sari mempunyai percepatan tumbuh hampir dua kali tanaman jati tanpa tumpangsari. “Sebelum tumpangsari, kami menyiram setiap tanaman jati dengan satu ember air (+ 5 liter) setiap hari, hasilnya nihi, karena porousnya lahan, ditambah matahari lembah Palu yang mencorong setiap hari, membuat jati tumbuh kerdil. Air tersebut hanya membuat tanaman mampu tetap hidup, tanpa tumbuh. Begitu telat disiram pucuk-pucuk daun langsung kering. Jati yang ditanam di lahan super kritis memerlukan tetesan air secara terus menerus seperti sistim infus,” kata warno salah satu pemilki lahan jati.

Dalam rangka menjaga kesuburan tanah, jenis tanaman tumpangsari diselang-seling atau bergantian antara bawang merah goreng dengan tanaman lain bisa terong, tomat ataupun lombok. Bawang merah goreng memerlukan masa tanam kurang lebih 70 hari, maka pada hari ke 30, tanaman lombok mulai ditanam untuk menggantikannya. Tanaman lombok mempunyai masa produktif sampai umur dua tahun.

Tumpangsari di Perkebunan Sengon

Sementara sengon, meski dikenal sebagai tanaman keras yang paling cepat panennya, tetapi bagi investor masa tunggu 5 tahun tentu menjemukan. Untuk membunuh rasa jemu itulah variasi tumpang sari menjadi penting. Karena dengan tumpang sari kita bisa memperoleh pendapatan jangka pendek baik bulanan, tiga bulanan maupun empat bulanan.

Manajemen tumpang sari dalam sistem budidaya Sengon pola intensifikasi tinggi, seperti yang diterapkan PT Raja Sengon Indonesia, mempunyai fungsi ganda. Di samping memberi pendapatan jangka pendek kepada perusahaan, tumpang sari berfungsi sebagai alat yang bisa memberi gaji bulanan kepada penggarap. Sekedar mengingatkan bahwa sistem intensifikasi tinggi yang diterapkan perusahaan mewajibkan dalam luasan 1 ha kebun Sengon harus ada penggarapnya satu orang.

Banyak sekali jenis tanaman yang bisa dijadikan tumpang sari. Misalnya bayam, kangkung, Sawi. Bisa juga Jagung, kacang panjang, padi gogo. Kalau mau mengawinkan kebun Sengon dengan industri minyak atsiri tanamlah Nilam, Sereh Wangi dan pala. Khusus Pala ditanam pada lingkaran terluar kebun pada tiap luasan satu hektare.

Jangan sekali-kali menanam tumpang sari jenis Singkong, kacang tanah, dan kayu keras sejenis seperti petai, jengkol, rambutan, mangga apalagi jati. Memang ada, untuk tujuan tertentu menyela Sengon dengan Mindhi, tapi saya tidak menyarankan itu dilakukan.

Pengalaman saya selama ini, pada areal yang ada tumpang sannya, tanaman Sengon tumbuh bagus. Karena tanaman Sengon menjadi terawat secara otomatis. Jadi bagi mereka yang punya kebun luas, segera lakukan tumpang sari.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.